Sejarah Penggunaan Aksara Latin di Nusantara, Dimulai Dari Terjemahan Leydekker serta van der Vorm

Thursday, May 23rd, 2019 - Android

Selamat datang di website kami yang menjadi tempat berbagi informasi terkait dengan perkembangan teknologi terbaru yang mungkin Anda butuhkan, Sejarah Penggunaan Aksara Latin di Nusantara, Dimulai Dari Terjemahan Leydekker serta van der Vorm.

SIAPA nyana, aksara Latin telah di­gunakan untuk tuliskan bahasa Melayu paling tidak pada era ke-17. Meskipun begitu, Alif Danya Munsyi, dalam buku Bahasa Tunjukkan Bangsa (2005), mengatakan jika aksara Latin diperkenalkan dengan sah di nusantara pada tahun 1536 lewat sekolah pertama di Indonesia yang dibangun di Ambon oleh penguasa ­Portugis, Antonio Galvao.

Dari situlah warga Ambon kenal bahasa Melayu, khususnya lewat karya-karya Fransiscus Xaverius, sang misionaris.

Sebelum jalankan misi di Ambon, dia terlebih dulu minta seorang di Malaka untuk me­ner­jemahkan ayat-ayat pegangan Nasrani, se­perti ”Doa Bapa Kami”, ”Salam Maria”, serta ”Syahadat Rasuli”. Ayat-ayat pegangan itu yang dia katakan saat melingkari daerah Ambon serta sekelilingnya dengan bawa ­lonceng.

Munsyi menulis, ”Siapa yang dapat mengingat ayat-ayat pegangan itu lalu dibaptis dibawah nama Bapa, Putra, serta Roh Kudus. Tetapi, baru satu era lalu kitab suci ­Nasrani diciptakan dalam bahasa Melayu. Serta, selama ini, kitab itu yang bisa dikata se­bagai cetakan paling tua dalam riwayat pustaka ­Indonesia tertulis Latin, ditangani oleh ­Brouwerius, diedarkan pada 1663.”

Oleh karenanya, tidak bingung bila bangsa Belanda, yang hadir sesudah Portugis, menda­pati masyarakat Ambon sudah kenal bahasa Melayu. Fakta itu memberikan inspirasi Belanda untuk jadikan bahasa Me­layu jadi bahasa administratif, tidak kecuali di Maluku.

Jan Sihar Aritonang serta Karel Steenbrink, dalam buku A History of Christianity in Indonesia (2008), menyebut­kan jika Joseph Kam ber­layar ke arah Pulau Jawa (Batavia) atas pertolongan London Missionary Society pada tahun 1814.

Meski begitu, dia baru datang di Ambon pada ­tanggal 3 Maret 1815. Hal tersebut memperjelas jika peranan Kam, termasuk juga dalam peng­ajaran bahasa Melayu, baru berlangsung pada dekade ke-2 era ke-19.

Penebaran agama Kristen

Baca : pengertian sejarah

Dianne Bergant serta Robert J Karris, dalam buku Tafsiran Alkitab Kesepakatan Lama (2002), mengatakan jika pemakaian aksara Latin untuk tuliskan ­bahasa Melayu khususnya di­tujukan buat penebaran ­agama Kristen.

Dijelaskan, tidak lama sesudah Belanda, dalam kerangka ini VOC, menjejakkan kaki di nusantara, penerjemahan Injil ke bahasa Melayu telah dikerjakan.

Hal tersebut dilatarbelakangi oleh fakta jika bahasa Melayu adalah ­bahasa kebudayaan di serata nusantara.

Tokoh pertama yang meng­alihbahasakan Injil ke bahasa Melayu ialah Albert Cornelisz Ruyl. Dia menyelesai­kan terjemahan Injil Matius pada tahun 1612, tapi baru diedarkan pada tahun 1629.

Sembilan tahun berlalu, ­pada 1638, dia kembali mengeluarkan karya terjemah­an Injil Markus. Sekarang, ke-2 karya terjemahan Ruyl itu jadi sisi dari koleksi Württembergische Landes­bibliothek Stuttgart, Jerman.

Seterusnya, pada tahun 1646, diedarkan juga Injil Lukas serta Injil Yohanes dengan alih bahasa yang ditangani oleh Jan van Hazel.

Pada tahun 1691, Melchior Leydekker serta Petrus van der Vorm ditugaskan untuk meng­alihbahasakan semua Alkitab itu ke bahasa Melayu tinggi yang, sayangnya, tidak dipahami oleh rakyat biasa. juga, mereka mengguna­kan banyak kata asing yang datang dari bahasa Arab serta Persia.

Fakta itu yang memunculkan ”perlawanan” Francois Valentyn yang lalu mengartikan semua Alkitab ke bahasa Melayu Maluku.

Meski begitu, Alkitab terjemahan Leydekker serta van der Vorm masih di terima, selalu direvisi, bahkan juga diedarkan kembali ke tahun 1733 dan diciptakan berkali-kali sampai tahun 1916.

Sejarah Penggunaan Aksara Latin di Nusantara, Dimulai Dari Terjemahan Leydekker serta van der Vorm | hpaja | 4.5