Pembunuhan Keyakinan dan Identitas Muslim Uighur China Membuat Kegaduhan Politik

Wednesday, May 15th, 2019 - Android

Selamat datang di website kami yang menjadi tempat berbagi informasi terkait dengan perkembangan teknologi terbaru yang mungkin Anda butuhkan, Pembunuhan Keyakinan dan Identitas Muslim Uighur China Membuat Kegaduhan Politik.

Muslim Uighur di China diadukan didesak buat membebaskan kepercayaan serta ciri-ciri Muslim mereka oleh pemerintah China. Kamp-kamp pendidikan kembali, observasi Masjid, jaringan pengecekan keamanan yg luas—ini cuma sejumlah spesifikasi dari metode pengawasan yg diciptakan China buat memperhatikan Muslim Uighur. Suatu laporan dari Xinjiang.

Muslim di Xinjiang, China barat laut—yang adalah tanah air etnis Uighur—mengalami rangkaian kekerasan yg dapat dukungan negara. Buat beberapa ratus ribu orang, kekerasan itu ada berbentuk penahanan di pusat-pusat “pendidikan ulang”, dimana banyak petinggi beberapa waktu terakhir mengusahakan buat berikan pembenaran hukum.

Muslim Uighur yg udah terbebas dari nasib ini belum lolos dari serbuan negara pada kebebasan mereka. Walaupun mereka tak hanya terbatas pada kamp pendidikan kembali yg dipagari kawat berduri, akan tetapi mereka terus taat pada Islamofobia yg terlembagakan serta pengawasan dimana-mana.

Waktu malam hari, Urumqi—ibu kota lokasi itu—berdenyut dengan lampu merah serta biru. Di distrik Uighur kota, “Stasiun Polisi” yg penuh dengan camera pengenalan muka, bersiaga tiap-tiap 200 mtr..

Pos pengecekan ada dimana-mana. Camera, gerbang, mesin pemindai muka, serta detektor logam di pintu masuk tiap-tiap ruangan pemukiman, pusat pertokoan, serta tempat usaha besar, udah mengedit kota itu berubah menjadi labirin berteknologi tinggi, dimana cuma beberapa orang dengan muka serta buku tabungan yg pas yang bisa bergerak tiada memperoleh soal.

Kota ini merupakan laboratorium polisi raksasa, dimana minoritas Muslim diperlakukan jadi subyek uji-coba dalam percobaan anti-agama. Dinding, gerbang, serta polisi, merupakan sisi dari usaha buat menyingkirkan bentuk-bentuk praktek Islam yg tak dikehendaki.

Banyak petinggi negara mengawali percobaan ini dalam otoritarianisme perkotaan lebih dari sembilan tahun yang silam, pada 5 Juli 2009. Pagi itu, beberapa ratus penduduk Uighur yg bawa bendera China tuntut Pemimpin Partai Komunis China (PKC) buat perlindungan hak-hak penduduk Uighur yg udah dikirim buat kerja di pabrik-pabrik di China Selatan.

Tidak setuju itu diredam dengan kekerasan polisi serta lekas berubah jadi pertumpahan darah antar-etnis. Menurut angka sah, tidak setuju serta kekerasan yg berlangsung sebabkan 197 jiwa serta menimbulkan hampir 2. 000 korban cedera. Dalam minggu-minggu seterusnya, ratusan—atau bahkan juga ribuan—pemuda Uighur ‘dilenyapkan’ oleh negara. Mereka tidak sempat tampak mulai saat itu.

Kekerasan tak selesai di berjalan-jalan Urumqi pada bulan Juli sore itu. Dekade ini udah saksikan meningkatnya peristiwa kekerasan sporadis di lokasi itu, serta udah meluas ke Beijing serta Kunming. Di antara tahun 2013 serta 2014 saja, sejumlah 700 orang meninggal dunia dalam serbuan polisi, pembunuhan, serta benturan dengan anggota keamanan.

Lonjakan penindasan negara serta resistensi Uighur yg terjadi di lokasi itu, menyebabkan pertanyaan terkait kestabilan hari depan daerah tersebut. Walaupun negara menyatakan kalau Xinjiang udah berubah menjadi sisi yg tidak bisa dipisahkan serta adalah sisi “multi-etnis” dari China “sejak era kuno, ” akan tetapi banyak orang-orang Uighur bertahan kalau bahasa, agama, serta budaya mereka di serang, serta memprotes pengecualian dari ekonomi China yg maju akan tetapi didominasi etnis Han, lewat bentuk-bentuk bias sistematis serta terlembaga.

Beberapa orang Uighur yg kami wawancarai mengemukakan kalau kekerasan di lokasi itu datang dari pengalaman kehilangan serta ketidakadilan, tidak dari motivasi ideologis. Proses perampasan memajukan etnis Uighur ke titik nadir.

 

Baca Juga : cara membuat teks laporan

 

Akan tetapi China terus berpedoman pada naskahnya yg dipraktikkan secara baik, yg menjelaskan kalau menambah kehidupan materi Uighur lewat peningkatan pasar sesaat memberantas “ekstremisme”, bakal bawa kestabilan dalam lokasi itu.

Perubahan ekonomi beberapa waktu terakhir di Wilayah Otonomi Uighur di Xinjiang.

Pembangunan ekonomi berikan kegunaan langsung paling besar untuk mereka yg udah punyai modal sosial serta budaya. Sebab itu, pendekatan China pada pembangunan udah mengedit tanah air Uighur sembari mendestabilisasinya dalam prosedurnya. Reformasi pertanahan serta program transfer tenaga kerja, mengawali proses perampasan kepemilikan Uighur.

Pembangunan kereta api, jalan raya, serta jaringan seluler 3G, memercepat pergantian yg meluas terhadap bentuk praktek Islam yg lebih saleh. Sejumlah hasil yg tak disengaja ini memajukan negara buat melipatgandakan usahanya buat meniadakan “ekstremisme” sembari memercepat bentuk pembangunan baru : mengedit China berubah menjadi negara adikuasa yg menantang pemberontakan.

Bentuk sekuritisasi yg luas serta invasif ini tampak pada tahun 2017, disaat Xi Jinping mendorong pembangunan “tembok besi besar” buat perlindungan daerah itu dari apa yg dikira oleh banyak pemimpin China jadi ultimatum pada jujur dan berkarakter kuat lokasi Republik Rakyat China.

Tak lama seusai pengakuan Xi, pada tanggal 1 April 2017, Partai Komunis memberitakan Clausal Wilayah Otonomi Xinjiang Uighur terkait Peniadaan Ekstremisme. Arti undang-undang itu terkait ekstremisme ini termasuk juga perbuatan apa-pun yg “salah mengartikan ajaran agama buat mengakibatkan kedengkian, menyebabkan diskriminasi, serta mengadvokasi kekerasan. ”

Dokumen ini lebih jauh mengidentifikasi lima belas “manifestasi ekstremisme” yg melanggar hukum, termasuk juga menampik buat mengkonsumsi “merek non-halal, ” menampik buat menyaksikan tayangan tv negara, serta memakai “simbol ekstremis” seperti hijab atau jenggot yg dilarang.

Undang-undang itu pertanda perombakan negara atas apa yg dimaksud “tiga kekuatan” yg mengintimidasi kestabilan sosial : ekstremisme agama, separatisme etnis, serta terorisme kekerasan. Saat ini, undang-undang ini mementingkan peniadaan ekstremisme diatas lainnya.

“Ekstremisme”—seperti dua makna lainnya—memberi banyak efek buat peraturan negara. Istilahnya deskriptif serta preskriptif. Kata itu melabeli tabiat spesifik yg tak normal, keluar batas, tidak bisa di terima, serta di luar arus khusus, sesaat membetulkan pemolisian etika serta, pada gilirannya, pemberlakuan norma-norma baru serta bentuk kontrol.

Walaupun barisan dokumen yg pas memberikan kesamaan ketepatan, akan tetapi slogan hukumnya yg rancu serta penegakan dengan cara ad hoc, merefleksikan satu Islamofobia institusional yg memajukan kepolisian pada praktek Islam.

Bukannya mengidentifikasi serta mengklarifikasi arti ekstremisme—seperti yg dikatakan oleh Xinhua News—hukum serta kampanye yg terkait malahan mengaburkan garis kabur yg memisahkan praktik-praktik keagamaan yg resmi serta ilegal di Xinjiang, sesaat ketika yg sama melibatkan petinggi lokal buat menghukum Muslim Uighur buat apa-pun yg dikira keluar batas atau mungkin tidak normal.

Banyak petinggi negara yakin kalau Islam udah “menjangkiti” etnis Uighur serta merasa kesalehan mereka jadi ultimatum serius untuk kedaulatan nasional China. Pada pertemuan tahun 2016 terkait masalah agama, Xi Jinping memajukan peleburan “doktrin agama dengan budaya China, ” pengakuan yg di yakini disasarkan pada pendapat pergerakan “Islamisasi”—atau praktek serta kepercayaan Islam yg belum “Di-china-isasi” oleh budaya China atau Adat Konfusianisme.

Awal tahun itu, banyak pemimpin negara menghapuskan undang-undang yg bakal mengontrol serta mengawasi produksi makanan halal, seusai sejumlah akademisi memiliki pengaruh di China mengkritik hukum itu lantaran melanggar pembelahan agama serta negara ; Wang Zhengwei—seorang pengacara Muslim Hui buat RUU itu, yang menggenggam urutan paling tinggi dalam Komisi Masalah Etnis Negara—dipecat dari jabatannya gak lama seusai ketentuan itu.

Kejadian-kejadian ini berlangsung dengan latar penambahan anti-Islam dengan cara online oleh banyak netizen dari etnis Han, keadaan yg mengkuatirkan mengingat sensor ketat negara atas tiap-tiap komentar yang bisa mengakibatkan kedengkian etnis serta membuat kegaduhan politik.

Pembunuhan Keyakinan dan Identitas Muslim Uighur China Membuat Kegaduhan Politik | hpaja | 4.5