Letusan Gunung Merapi dari Naskah-naskah Kuno

Tuesday, May 7th, 2019 - Politik

Selamat datang di website kami yang menjadi tempat berbagi informasi terkait dengan perkembangan teknologi terbaru yang mungkin Anda butuhkan, Letusan Gunung Merapi dari Naskah-naskah Kuno.

Untuk penduduk Yogyakarta serta Jawa Tengah, Merapi merupakan kawan hidup. Untuk sejumlah orang, sejak mulai 1548 sampai 2014, mereka mati lantaran letupan Merapi. Namun setelahnya, gunung api tersebut yg sediakan wahana hidup buat anak cucu mereka.

Histori Gunung Merapi merupakan sejarah terkait letusan. Dalam kurun waktu sejak mulai 1548 hingga 2014, gunung yg bertempat pada bagian tengah Pulau Jawa ini udah 71 kali erupsi. Sejumlah letusan miliki daya rusak yg mematikan.

Naskah kuno memaknai peristiwa-peristiwa itu jadi kemurkaan Tuhan serta tandanya datangnya huru-hara.

” Gunung Merapi menyemburkan api yg sangatlah dahsyat. Siang-malam bumi berguncang serta dihujani api. Kilat gak henti-hentinya menyambar. Asap serta api yg keluar dari mulut gunung bagaikan kain merah menyala dibuat wiru [lipatan-lipatan pada sehelai kain], mumbul tinggi menyentuh langit. Jagat yg gelap pekat itu bagaikan terbakar sampai merahnya api bagaikan hiasi kelamnya angkasa. ”

” Gemeretak pohon pohon yg bertumbangan gak ubahnya nada senapan yg ditembakkan. Semuanya penduduk desa di lereng Gunung Merapi sama sama tunjang berebutan selamatkan diri. Sepanjang waktu, baru kali itu Gunung Merapi memuntahkan lahar sedahsyat muntahan lumpur batu sebagaimana pada saat peperangan Pajang menantang Mataram (1586) . ”

Seperti itulah Babad Betawi Jilid III menggambarkan keganasan erupsi Gunung Merapi 1822 dalam bahasa yg sangatlah puitis. Babad Betawi Jilid III satu diantara naskah kuno punya Pura Pakulaman, yg cetakan aslinya sampai saat ini masih terurus baik.

Babad Betawi adalah kejadian sastra-sejarah yg ceritakan pembuangan Pangeran Natasukuma hingga akhirnya dirikan Kadipaten Pakualaman. Pangeran Natakusuma dikatakan jadi anak yang paling disayangi dari pendiri Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB I.

Kedepannya, Pangeran Natakusuma termasyhur dengan titel KGPAA Paku Alam I. Karya ini dicatat dalam tiga jilid serta bersifat tembang macapat.

Episode erupsi Gunung Merapi 1822 dapat dijelaskan cuma menyempil di Babad Betawi Jilid III. Dari keseluruhan halaman yg capai 900, letusan maut itu diuraikan dalam delapan halaman.

Akan tetapi, dari halaman yg dikit itu, dahsyatnya kapabilitas Gunung Merapi dapat tergambar jelas. Pada halaman 784 di sebutkan, gara-gara erupsi, desa-desa di lereng gunung berubah menjadi sepi gak berpenghuni. Kala itu hujan batu berapi masih berlangsung, dibarengi gelegak gunung sampai bergema di angkasa.

Karena itu, beberapa orang Belanda serta Tionghoa kocar-kacir berlarian tinggalkan Bedhaya serta Magelang buat selamatkan diri ke Semarang. Situasi demikian mengharu biru. Keadaan di Bedhaya dilukiskan sepatutnya saat kiamat ; tadi malam bosan hujan batu gak hentinya keluar dari pucuk gunung, berbarengan dengan sambaran kilat.

Penduduk yg tinggal di dusun-dusun di kaki Gunung Merapi, masih dinukil dari karya yg sama, bertambah miris serta kebingungan, lantaran tersebar berita Jumat seterusnya Jogja bakal terbenam terbanjiri lumpur dari gunung. Banyak orang-orang yg menyelamatkan diri ke Pura Pakualaman agar dapat bertahan hidup.

Buat didapati, sama dengan sifat typical babad, teks yg menampung data histori dihias serta dibumbui dengan curahan hati sang penulis atau pesanan penggagas tulisan naskah, sampai berat kemurnian kenyataan mesti diperhitungkan.

Letusan Besar

Mungkin, penggambaran letusan Gunung Merapi 1822 di Babad Betawi Jilid III lumayan terlalu berlebih, atau mungkin saja tak. Namun yang pasti, histori mencatat pada 1822 memang berlangsung erupsi besar.

Salah satunya artikel terkait histori letusan Gunung Merapi di situs Pusat Vulkanologi serta Mitigasi Petaka Geologi menyebutkan, indeks Volcano Explosivity Index (VEI) letusan 1822 berada pada angka empat. Indeks VEI ini merupakan rasio buat mengukur kapabilitas serta besaran letusan gunung api. Rasionya 1 hingga 8. Tambah besar rasionya, tambah besar letusannya.

Letusan dengan indeks VEI diatas angka dua udah masuk category erupsi besar. Letusan Gunung Merapi 2010 serta 1872 merupakan dua letusan yang punyai indeks VEI empat.

 

Read More : contoh teks hikayat

 

Perihal ini tambah dikuatkan melalui artikel berjudul Status Normal Merapi Masa Letusan 2010 yg muncul di Geomagz, majalah geologi digemari banyak orang. Di sebutkan, Gunung Merapi pada periode moderen udah alami sekian kali letusan besar, ialah di zaman 19 (1822, 1849 serta 1872) serta zaman 20 (1930-1931) .

Erupsi zaman ke-19 dijelaskan sebagi letusan yg tambah besar ketimbang zaman ke-20, disaat awan panas melesat sejauh 20 km. dari pucuk.

Letusan 1822 pun dicatat oleh Kemmerling (1921) , yg lantas berubah menjadi rekomendasi analisa B. Voight dkk (2000) dalam Historical Eruption of Merapi Volcano, Central Java, Indonesia, 1768-1998.

Letusan 1822 diawali terlebih dulu dengan penghancuran kubah lava serta membuat kawah berdiameter 600 mtr. dengan bukaan menuju Kali Apu, Blongkeng, serta Woro. Luncuran awan panas mengubur delapan desa. “Gunung diselimuti oleh saluran api, ” tuliskan Kemmerling.

Letusan lain yang tersebut dalam naskah kuno merupakan erupsi Gunung Merapi 1586. Kabar perihal letusan ini ada dalam Babad Matawis Saha Candra Nata, yg dicatat pada waktu Paku Alam II.

” Disaat itu angin yg awalnya semilir mendadak jadi kencang diikuti halilintar menggelegar. Rintik-rintik hujan lekas berubah menjadi deras bagaikan dituang dari angkasa. Pohon pohon lantas bertumbangan tercabut dari tanah lantaran kencang serta derasnya hujan badai. ”

” Moment ini dimaksud menandai datangnya jin, peri, serta prayangan. Sorak sorai banyak lelembut di angkasa diterima gelegar Gunung Merapi. Kawah merekah sebabkan semuanya isi gunung tumpah ruah. Gunung Merapi dengan dahsyat menyemburkan abu, batu serta mencairkan lahar yg mengerikan penuhi Sungai Opak. ”

“Beradunya batu dengan batu yg keluarkan api itu seakan menyuarakan ajakan buat menggilas pasukan Pajang yg ingin menyerang Mataram. Atas kuasa Tuhan, amukan lahar serta muntahan batu dari Gunung Merapi udah ikut mendukung Kanjeng Sinuwun Senapati [Raja Pertama Kesultanan Mataram] dalam menggapai kejayaannya, ” demikian terdaftar dalam Babad Matawis Saha Candra Nata.

Akan tetapi, buat menelusur resiko serta kapabilitas letusan 1586 benar-benar muskil. Musababnya, histori letusan Gunung Merapi yg detail dengan diikuti rangkaian baru mulai dalam akhir zaman 19.

Peringatan Tuhan

Naskah-naskah kuno yg mencatat moment letusan Gunung Merapi, kebanyakan, menilainya petaka itu jadi peringatan dari Tuhan biar manusia melakukan perbaikan akhlak. Ihwal ini sempat berubah menjadi bahan tinjauan pengajar di Prodi Sastra Jawa, Fakultas Pengetahuan Budaya UGM Sri Ratna Saktimulya dalam analisa yg berjudul Petaka Merapi dalam Beberapa Naskah Jawa.

Letusan Gunung Merapi pun jadikan sejenis sinyal tanda datangnya bencana. Dalam Babad Ngayogya, tuliskan Sakti, di sebutkan gelegar Gunung Merapi pada 30 Juni 1822 disertai dengan empat gunung yang lain, ialah Bromo, Kelud, Slamet serta Guntur.

Rangkaian letusan gunung ini dikira adalah tanda Pulau Jawa bakal berlangsung huru-hara. Dalam skema ini, besar kemungkinan merupakan Perang Jawa yg melelahkan itu.

Dalam penelitiannya itu, Sakti menjelaskan, sebelum berlangsungnya Perang Jawa, kondisi di Jogja serta seputarnya sudahlah tidak sehat. Disaat itu banyak berlangsung kegaduhan lantaran dorongan ekonomi, sosial serta politik.

Sakti, tidak cuman jadi seseorang dosen di UGM, pun adalah abdi dalam Pura Pakualaman dengan nama Nyi Mas Tumenggung Sestrarukini. Dia ditugaskan jadi pengelola Perpustakaan Widya Pustaka punya Pura Pakulaman.

Jadi seseorang dosen Sastra Jawa, semestinya dirinya sendiri kerap mesti tersinggung dengan naskah-naskah kuno. Menurutnya, membaca karya-karya dari masa dulu miliki banyak kegunaan.

Dengan itu dirinya sendiri dapat tahu apa yg sempat berlangsung di waktu lampau. Mempelajarinya dengan jeli buat menyediakan beberapa langkah yg dibutuhkan biar kekeliruan yg sama gak terulang kembali. Dikarenakan histori, seperti kata pepatah latin : historia magistra vitae, merupakan guru yg terhebat.

Satu disaat, kala Sakti membaca naskah Babad Pakualaman Jilid III, dia memahami DIY miliki sejarah panjang dalam masalah petaka. Bencana yg tersebut dalam Babad Pakualaman Jilid III merupakan gempa bumi besar tahun 1867, yg diprediksikan membunuh 1. 000 orang.

Seusai membaca itu, dia berbagi pengetahuannya ke banyak mahasiswa, dengan keinginan mereka tambah lebih awas. Sakti juga pernah menulis perihal histori gempa DIY di Harian Bernas jadi suatu peringatan. “Setelah itu beberapa hari lantas memang sungguh-sungguh berlangsung gempa tahun 2006, ” kata ia, Sabtu (26/5) .

Akan tetapi sayangnya, naskah-naskah kuno punya Pura Pakualaman belum semua dialihkan. Sejumlah naskah baru dialihaksarakan ke huruf latin. Seusai dialihaksarakan lantas orang biasanya gak dapat mendalami babad-babad itu, lantaran banyak kosakata yg tak dijumpai dalam kehidupan sekarang.

Bergeser dari tersebut lantas Paku Alam X menghendaki biar naskah-naskah punya Pura Pakualaman dialihkan serta didigitalisasi. Pada 2005 team buat misi itu udah dibuat. Sakti merupakan nakhoda dari group kecil yg menyebutkan dirinya sendiri team Widya Pustaka itu.

“Yang dialihkan baru 10 naskah, dari 251 naskah. Maksud [dari project ini] merupakan buat menyebarluaskan nilai-nilai yg terdapat dalam naskah punya Pura Pakualaman, sebab itu sangat berfaedah untuk kehidupan, ” jelas Sakti.

Letusan Gunung Merapi dari Naskah-naskah Kuno | hpaja | 4.5